Minggu, 18 Oktober 2020

TEKS EKSPLANASI BAGIAN 1

 DEFINISI DAN CIRI TEKS EKSPLANASI



KEGIATAN 1

AMATILAH VIDEO BERIKUT DENGAN SEKSAMA 


KEGIATAN 2

RINGKASAN MATERI TEKS EKSPLANASI 


Teks eksplanasi adalah teks yang bertujuan menjelaskan proses terjadinya suatu peristiwa baik alam, sosial, maupun budaya. 

Teks eksplanasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 

1.    Menggunakan istilah teknis

Istilah teknis adalah istilah yang berkaitan dengan bidang ilmu tertentu. Misalkan sebuah    teks eksplanasi yang menjelaskan fenomena alam akan mengunakan istilah teknis di  bidang ilmu alam.

 

2.    Menggunakan kalimat aktif dan pasif

Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan pekerjaan. Contoh : Sandra        menyapu lantai. Dalam kalimat tersebut Sandra melakukan pekerjaan menyapu lantai.    Sebaliknya kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan. Contoh :           Lantai disapu oleh Sandra. Dalam kalimat tersebut, lantai dikenai pekerjaan disapu oleh    Sandra. 

 

3.    Menggunakan kalimat tanya (interogatif) dan kalimat berita (deklaratif)

Kalimat tanya adalah kalimat yang mengandung makna pertanyaan. Sementara itu, kalimat berita adalah kalimat yang mengandung pernyataan tertentu. Kalimat tanya   diakhiri tanda tanya, kalimat berita diakhiri tanda titik. 

 

4.    Menjawab pertanyaan bagaimana

Kata tanya bagaimana membutuhkan membutuhkan jawaban berupa proses sesuatu  terjadi. Teks eksplanasi ditulis untuk menjelaskan suatu fenomena atau peristiwa. Oleh    karena itu, penulis teks eksplanasi harus menguasai bidang yang ditulisnya, 

 

5.    Menjawab pertanyaan mengapa

Kata tanya mengapa membutuhkan jawaban berupa penjelasan sebab akibat. Teks        eksplanasi tidfak hanya menjelaskan proses, tetapi juga menjelaskan hubungan sebab        akibat. 

6.    Berdasarkan hasil penelitian ilmiah

Penelitian dapat dilakukan oleh penulis ataupun orang lain. Jika penelitian dilakukan oleh orang lain, penulis cukup mengutip hasil penelitian tersebut dalam teks. 

 



Minggu, 11 Oktober 2020

TEKS PROSEDUR BAGIAN 2

MENENTUKAN INFORMASI PENTING DAN MENYIMPULKAN TEKS PROSEDUR



Simak video berikut dengan seksama


 




CONTOH TEKS PROSEDUR

Membuat Layang-layang

Layang-layang merupakan salah satu mainan anak-anak yang masih kerap dimainkan hingga saat ini. Cara membuat layang-layang cukup mudah serta bisa dibuat dengan alat dan bahan yang sederhana.

Bahan yang dibutuhkan antara lain bambu tipis, kertas minyak, lem kertas, benang, pisau, dan gunting.

Cara membuatnya adalah sebagai berikut.

1. Buatlah kerangka layangan dengan dua buah bambu yang sudah disiapkan.

2. Letakkan bambu dengan menyilang dan seimbang antara panjang bagian kanan dan kirinya.

3. Ikat bambu tersebut menggunakan benang pada setiap bagian.

4. Guntinglah kertas minyak sesuai kerangka layang-layang dan tempelkan.

5. Hiaslah layang-layang sesuai yang kamu inginkan.


SETELAH KALIAN MELIHAT VIDEO DAN MEMBACA CONTOH TEKS PROSEDUR DI ATAS, MAKA KERJAKAN SOAL PADA LINK DIBAWAH INI !

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSc8Iat1--hXXy7-ugiUgzKVx6LdTIhRqPNo-wv5GZTOpuvSDQ/viewform?usp=sf_link

Sabtu, 10 Oktober 2020

MENCIPTA PUISI

 MENCIPTA PUISI DARI TEMA YANG TELAH DITENTUKAN 





Perhatikan video pembelajaran berikut : 


Setelah mengamati video di atas, kerjakan soal melalui link berikut : 

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSebjlEYRg1-DEhNA0Kb4_Qevq3YCLDICQRNSJ9DNY_OVMl50A/viewform?usp=sf_link


LITERASI :

Sejarah Perkembangan Puisi di Indonesia

Puisi adalah kasusteraan yang paling tua. Sejak dahulu, berpuisi adalah cara kuno dalam masyarakat, atau pada waktu tersebut di sebut mantra. Dalam masyarakat Jawa terdapat tradisi nembang Jawa, lirik puisi yang dilagukan. Biasanya, nembang didendangkan pada acara-acara sakral dan penting, seperti acara mitoni, siraman, dan pesta desa lainnya.  Selain lirik puisi yang ditembangkan, juga bisa menggunakan kisah cerita, seperti kisah Raden Panji, Dewi Nawang Wulan, Jaka Tingkir, dan lainnya.

Puisi tidak hanya dilagukan untuk mengisahkan cerita, namun, puisi juga dapat dijadikan dialog-dialog dalam pementasan ludruk, ketoprak, drama tradisional Jawa, atau orang Sumatra Barat menyebutnya Randai. Puisi tak hanya indah kata-katanya, melainkan juga isinya yang mengandung petuah, nasihat, dan pesan untuk pendengar.

Dalam perkembangan puisi di Indonesia, dikenal dengan berbagai jenis tipografi da model puisi yang menunjukkan perkembangan struktur puisi tersebut. Ciri struktur puisi dari jaman ke jaman tidak hanya ditandai dengan struktur fisik, tetapi juga oleh struktur makna atau tematiknya.

Berikut perkembangan puisi di Indonesia, mulai dari angkatan balai pustaka, hingga puisi jaman sekarang.

  1. Balai Pustaka

Pada angkatan ini, puisi masih berupa mantra, pantun, dan syair, yang merupakan puisi terikat.

–    Mantra, jenis puisi tertua yang terdapat di dalam kesusastraan daerah di seluruh Indonesia. Kumpulan pilihan kata-kata yang dianggap gaib dan digunakan manusia untuk memohon sesuatu dari Tuhan. sehingga mantra tidak hanya memiliki kekuatan kata melainkan juga kekuatan batin.

–    Pantun dan Syair, puisi lama yang struktur tematik atau struktur makna dikemukkan menurut aturan jenis pantun atau syair, dalam hal ini, pantun dan syair masih berupa puisi terikat.

  1. Pujangga Baru (1933-1945)

Jika pada angkatan balai pustaka penulisan puisi masih banyak dipengaruhi oleh puisi lama, maka pada angkatan Pujangga Baru diciptakan puisi baru, yang melepaskan ikatan-ikatan puisi lama. Sehingga munculnya jenis-jenis puisi baru, yaitu : distichon (2 baris), tersina (3 baris), quartrin (4 baris), quint (5 baris), sextet (6 baris), septima (7 baris), oktaf (8 baris), soneta (14 baris).

Dalam periode ini terdapat beberapa julukan untuk penyair Indonesia, seperti Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru, dan ia disebut oleh H.B. Jassin sebagai Penyair Dewa Irama. J.E. Tatengkeng disebut sebagai Penyair Api Naionalisme, dan sebagainya.

Para penyair yang dapat dikategorikan msuk dalam periode Pujangga Baru adalah :

–         Amir Hamzah, “Nyanyi Sunyi” / 1937 dan “Buah Rindu” /1941

–         Sutan Takdir Alisyahbana, “Tebaran Mega” / 1936

–         Armijn Pane, “Jiwa Berjiwa” / 1939, “Gamelan Jiwa” / 1960

–         Jan Engel Tatengkeng “Rindu Dendam” / 1934

–         Asmara Hadi, “Api Nasionalisme”

–         Dll.

  1. Angkatan 45 (1945-1953)

Jika pada periode sebelumnya melakukan pembaharuan terhadap bentuk puisi, pada periode ini dilakukan perubahan menyeluruh. Bentuk puisi soneta, tersina, dan sebagainya tidak dipergunakan lagi. Dasar angkatan 45 ini adalah adanya ‘Surat Keperecayaan Gelanggang’, yang berbunyi :

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.

Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.

Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.

Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.

Angkatan 45 memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. puisi memiliki struktur bebas
  2. kebanyakan beraliran ekspresionisme dan realisme
  3. diksi mengungkapkan pengalaman batin penyair
  4. menggunakan bahasa sehari-hari
  5. banyak puisi bergaya sinisme dan ironi
  6. dikemukakan permasalahan kemasyarakatan, dan kemanusiaan

Penyair yang dapat diktegorikan pada periode ini adalah sebagai berikut :

– Chairil Anwar Krikil Tajam / 1949, Deru Campur Debu / 1949, Tiga Menguak Takdir/ 1950

–    Sitor Situmorang, Surat Kertas Hijau / 1954, Dalam Sajak / 1955, Wajah Tak Bernama / 1956, Zaman Baru / 1962

–    Harjadi S. Hartowardojo, Luka Bayang / 1964

–    Dll.

  1. Periode 1953-1961

Jika pada angkatan 45 yang menyuarakan kemerdekaan, semangat perjuangan dan patriotisme, maka pada periode ini membicarakan masalah kemasyarakatan yang menyangkut warna kedaerahan. Sifat revolusioner yang berapi-api, mulai merada. Mulai banyaknya puisi beraliran romantik dan kedaerahan dengan gaya penceritaan balada. Puisi pada periode ini banyak yang mengungkapkan subkultur, suasana muram, masalah sosial, cerita rakyat dan mitos (Atmo Karpo, Paman Ddoblang, dan sebagainya).

Cirri yang menonjol pada periode ini adalah munculnya politik dalam sastra, sehingga lahirnya LKN, LEKRA, LESBUMI, LKK, dan sebagainya.

Ciri khas puisi pada periode ini adalah :

  1. Bergaya epic (bercerita)
  2. Gaya mantra mulai dimasukkan dalam balada
  3. Gaya repetisi dan retorik semakin berkembang
  4. Banyak digambarkan suasana muram penuh derita
  5. Menerapkan masalah social, kemiskinan
  6. Dasar penciptaan balaa dari dongeng kepercayaan

Para penyair yang dapat digolongkan dalam periode ini adalah :

–         Willibrordus Surendra (W.S Rendra) Empat Kumpulan Sajak / 1961, Balada Orang-                 Orang Tercinta / 1957

–         Ramadhan Karta Hadimaja,  Priangan Si Jelita / 1958

–         Toto Sudarto Bachtiar, Suara / 1956

–         Dll.

  1. Angkatan 66 (1963-1970)

Masa ini didominasi oleh sajak demonstrasi atau sajak protes yang dibaca untuk mengobarkan semangat para pemuda dalam aksi demonstrasi, seperti pada tahun 1966 ketika sedang terjadi demonstrasi para pelajar dan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Lama. Penyair seperti Taufiq Ismail dan Rendra, membacakan sajak protes mereka didepan para pemuda.

Untuk mengobarkan semangat aktivitas kreatis angkatan 66, mulai munculah fasilitas-fasilitas sastra. Fasilitas tersebut antara lain, munculnya majalah Horison (1966), Budaja Djaja (1968, dan dibangunnya Taman Isail Maruki (TIM), yang menjadi pusat kebudayaan.

Pada periode ini berkembang dua aliran besar puisi. Aliran pertama adalah aliran neo-romantisme yang menegaskan sepi sebagai perlawanan yang bersifat metafisis, atas dunia. Penyair yang menganut aliran ini adalah Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Darmono, dan Abdul Hadu W.M.

Aliran yang kedua adalah aliran intelektualisme, aliran yang menekankan pada pengamatan kritis tentang dunia dan pengalaman pribadi. Penyair yang yang beraliran intelektualisme adalah Subagio Sastrowardoyo dan Toety Heraty.

Berikut penyair yang termasuk dalam angkatan 66 :

–         Taufiq Ismail, Tirani / 1966, Benteng / 1966

–         Sapardi Djoko Darmono, Dukamu Abadi / 1969, Mata Pisau / 1974

–         Linus Surjadi A.G., Pengakuan Pariyem / 1981

–         Dll.

  1. Puisi Kontemporer (1970 – sekarang)

Pada periode ini puisi disebut puisi kontemporer, puisi yang muncul pada masa kini dengan bentuk dan gaya yang tidak mengikuti kaidah puisi pada umumnya, dan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya. Dalam puisi kontemporer, salah satu yang penting adalah adanya eksplorasi sejumlah kemungkinan baru, antara lain penjungkirbalikan kata-kata baru dan penciptaan idiom-idiom baru.

Pada puisi kontemporer bertema protes, humanisme, religius, perjuangan, dan kritik sosial. Puisi kontemporer bergaya seperti mantra, menggunakan majas, bertipografi baru dengan banyak asosiasi bunyi,dan banyaknya penggunaan kata dari bahasa daerah yang menunjukkan kedaerahaannya.

Dalam dunia perpuisisan kontemporer, Sutardji mengebangakan puisi-puisi baru, dan mengiprovisasi puisinya. Hal ini terlihat pada sajak Sutardji ‘O, Amuk, Kapak’.

Yang termasuk penyair kontemporer adalah :

–         Sutardji Colzoum Bahri, O, Amuk, Kapak­ , Tragedi Winka Sihka, Batu

–         Emha Ainun Najib, ‘M’ Frustrasi / 1976, Nyanyian Gelandangan / 1981

–         Sapardi Djoko Darmono, Dukamu Abadi / 1969, Mata Pisau / 1974

–         Dll.

 

 

Daftar Pustaka/Sumber : 

–  Susastra 6 Jurnal Ilmu Sastra Dan Budaya, Volume 3, Nomor 6, 2007, HISKI

–  Unmanradieta.blogspot.com

– https://kumpulanpuisidwiki.blogspot.co.id/2013/09/sejarah-perkembangan-puisi-di-indonesia.html

Sabtu, 03 Oktober 2020

TEKS PUISI BAGIAN 2

 SIMPULAN UNSUR PEMBANGUN DAN MAKNA PUISI 



PERHATIKAN VIDEO PEMBELAJARAN BERIKUT




Setelah Memperhatikan video di atas, kerjakan Tugas berikut dengan sungguh-sungguh!

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSf3bbClUbIxqBtMHarWPS5OB1U6QUJ0ZQw4XWTLaxRTV9BPag/viewform?usp=sf_link

Catatan : Sebagai bahan belajar dan penunjang, silakan dibaca buku PR Bab 4 Kreatif Berpuisi



LITERASI

Sebelum menggunakan majas dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dahulu apa itu definisi majas perlu kamu ketahui. Majas didefinisikan sebagai gaya bahasa untuk menyampaikan pesan dengan cara kiasan. Majas menunjukkan makna tidak sebenarnya menggunakan cara imajinatif. Tujuannya, membuat pembaca mendapatkan perasaan emosional dari gaya bahasa yang digunakan.
Terdapat berbagai macam jenis majas dalam bahasa Indonesia. Secara umum, jenis majas dibedakan menjadi majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, dan majas penegasan. Perbedaan jenis majas tersebut akan berpengaruh terhadap cara pengungkapan dan makna kiasan. Jenis jenis majas dan contohnya akan dijabarkan lebih lanjut.

Mamikos akan menjabarkan macam macam majas dan contohnya. Gunakan majas sesuai konteks pembicaraan atau konteks kalimat yang sedang digunakan.

1. Majas-Majas Perbandingan

Majas perbandingan mencakup seluruh jenis majas yang tujuannya menyandingkan atau membandingkan sebuah objek dengan objek lainnya. Cara untuk membandingkan bisa dengan menyamakan objek, melebihkan satu objek dari objek lainnya, atau dengan menggantikan posisi objek. Jenis majas perbandingan masih dibagi menjadi beberapa macam. Berikut adalah jenis dan contoh majas perbandingan.

Majas Personifikasi

Majas personifikasi merupakan majas dengan gaya bahasa yang memanusiakan benda. Maksudnya, benda mati diibaratkan memiliki sifat seperti manusia atau meng-orang-kan benda mati.

Contoh Majas Personifikasi:

1. Ia membiarkan pulpen itu menari-nari di atas kertas untuk menghasilkan tulisan mengagumkan.
Keterangan: pulpen diibaratkan bisa menari seperti manusia, padahal seharusnya tidak bisa.

2. Daun yang tertiup angin berjoget layaknya tidak memiliki masalah.

Majas Metafora

Majas metafora merupakan majas yang menggunakan objek dengan sifat sama seperti pesan yang akan diutarakan. Objek tersebut akan dibandingkan dengan objek dengan sifat sama, tetapi bukan manusia.

Contoh Majas Metafora:

1. Meskipun Stella adalah anak emas, dia tidak pernah manja pada orang tuanya. (Anak emas= anak kesayangan)

2. Warga yang ketahuan mencuri akan menjadi buah bibir orang-orang di sekitarnya. (Buah bibir= bahan pembicaraan)

Majas Asosiasi

Majas asosiasi merupakan majas dengan penggunaan ungkapan untuk membandingkan dua objek berbeda yang dianggap sama. Penanda majas ini adalah penggunaan kata ‘bagaikan’, ‘seperti’, atau ‘bak’.

Contoh Majas Asosiasi:

1. Wajah kedua orang itu sangat mirip bak pinang dibelah dua.

2. Lamaran pemuda itu diterima bak gayung bersambut.

Majas Hiperbola

Majas hiperbola merupakan majas untuk mengungkapkan suatu hal secara berlebihan. Bahkan, tidak jarang pada kalimat ungkapan majas hiperbola ini tidak masuk akal.

Contoh Majas Hiperbola:

1. Ayah bekerja siang malam membanting tulang tanpa memperhatikan kesehatannya sendiri.

2. Belum kering air matanya, ia sudah dibuat sedih dengan kenyataan bahwa temannya juga pergi.

Majas Eufemisme

Majas eufemisme merupakan majas untuk menggantikan kata kurang etis dengan kata sepadan yang lebih halus.

Contoh Majas Eufemisme:

1. Penderita difabel tetap bisa mengikuti kegiatan perkuliahan dibantu oleh dosen khusus.

2. Penyandang tuna rungu bisa mengakses layanan perpustakaan kampus.

2. Majas-Majas Pertentangan


Majas pertentangan mencakup seluruh jenis majas yang menggunakan kata kiasan bertentangan dengan fakta sesungguhnya.

Majas Litotes

Majas litotes merupakan majas dengan gaya bahasa melebih-lebihkan atau hiperbola, tetapi dipersempit pada makna untuk merendahkan diri.

Contoh Majas Litotes:

1. Jangan sungkan untuk mampir ke gubuk kami apabila Anda memiliki waktu luang.

2. Silahkan mencicipi makanan sederhana yang kami sajikan.

3. Ayah membeli mobil butut dengan seluruh uang yang dimilikinya.

3. Majas-Majas Sindiran


Majas sindiran merupakan majas yang menggunakan kata kiasan untuk menyindir keadaan atau seseorang. Majas sindiran dibedakan menjadi beberapa macam.

Majas Ironi

Majas ironi merupakan jenis majas sindiran yang menggunakan kata-kata bertentangan dengan fakta. Pada majas ironi, bagian awal kalimat seakan-akan memuji tetapi sebenarnya sedang menyindir.

Contoh Majas Ironi

1. Rajin sekali, jam sembilan baru bangun.

2. Sudah berapa hari tidak mandi? Kok badanmu sangat harum.

Majas Sinisme

Majas sinisme adalah majas yang menyampaikan sindiran secara langsung pada objek yang dimaksud.

Contoh Majas Sinisme:

1. Gulingmu sangat bau, seperti tidak pernah dicuci.

2. Badannya gemuk sekali seperti orang yang kelebihan gizi.

3. Paman itu terlalu baik, sampai-sampai semua barangnya dibagikan pada orang lain.

4. Majas Penegasan


Majas penegasan merupakan jenis majas untuk membuat pembaca atau pendengar setuju pada kalimat yang diutarakan.

Majas Pleonasme

Majas pleonasme merupakan majas yang menggunakan kata bermakna sama untuk menegaskan sesuatu.

Contoh Majas Pleonasme:

1. Majulah ke depan agar orang-orang bisa menyaksikan penampilanmu.

2. Turunkan tangan ke bawah setelah menjawab soal yang diberikan guru.

3. Jangan berharap bisa mundur ke masa lalu karena kamu sedang hidup di masa kini.

Majas Repetisi

Majas repetisi adalah majas yang menggunakan kata berulang pada kalimat.

Contoh Majas Repetisi:

1. Dia adalah penyebabnya, dia si perusak barang, dia yang membuat kotak ini rusak.

2. Saya ingin menjadi lebih baik, saya ingin membanggakan orang tua, saya ingin membuat mereka bahagia.